James Trafford menjadikan kesempatan bermain secara rutin sebagai kebutuhan penting, bukan sekadar persoalan persaingan di lapangan. Kiper Inggris berusia 24 tahun itu mengungkapkan bahwa minimnya menit bermain bersama Manchester City musim lalu berdampak buruk terhadap kondisi mentalnya. Situasi tersebut akhirnya mendorongnya bergabung dengan Leeds United pada musim panas demi memperoleh tempat di tim utama dan menjaga perkembangan karier.
Persaingan James Trafford dan Gianluigi Donnarumma di Manchester City
Manchester City merekrut kembali Trafford, yang merupakan lulusan akademi klub, pada Juli 2025. Ia pulang dua tahun setelah meninggalkan City untuk bergabung dengan Burnley, yang ketika itu bermain di Championship. Namun, jalan menuju posisi utama berubah dalam waktu singkat.
Kurang dari enam pekan setelah kedatangan Trafford, City mendatangkan Gianluigi Donnarumma dari Paris Saint-Germain. Kiper internasional Italia berusia 27 tahun tersebut baru saja membantu PSG menjuarai Liga Champions beberapa pekan sebelumnya. Donnarumma kemudian langsung menjadi pilihan pertama di bawah arahan Pep Guardiola.
Trafford sebenarnya menjadi starter dalam tiga pertandingan pertama musim itu. Akan tetapi, setelah Donnarumma datang, ia hanya memperoleh satu kesempatan tambahan sebagai starter di Premier League dalam 35 pertandingan berikutnya. Bagi seorang penjaga gawang yang membutuhkan kesinambungan penampilan, periode panjang di bangku cadangan menjadi ujian yang sangat berat.
Dalam wawancara dengan program Football Daily, Trafford menggambarkan perasaan tidak bermain sebagai sesuatu yang “mengerikan”. Ketika menjalani hari yang buruk, ia kerap menghubungi ayah, ibu, pasangan, dan teman-temannya untuk meluapkan isi hati. Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi ruang baginya untuk membicarakan tekanan yang dialami.
Menit Bermain Menjadi Kebutuhan untuk Kesejahteraan Mental
Penjelasan Trafford menunjukkan bahwa keputusan pindah ke Leeds tidak hanya didorong ambisi olahraga. Menurut sang pemain, ia harus tampil secara reguler musim ini demi kesejahteraan mentalnya. Tidak bermain setiap pekan membuatnya merasa kehilangan diri sendiri, sedangkan kesempatan turun secara konsisten memberinya perasaan positif dan membantu kemajuan karier.
Pernyataan itu merupakan pengalaman pribadi Trafford, bukan penilaian umum terhadap semua pemain cadangan. Ia sendiri mengakui bahwa mungkin responsnya berbeda dari pemain lain. Namun, dalam situasinya, kebutuhan untuk bermain setiap pekan berkaitan langsung dengan upaya mendekati berbagai impian yang ingin dicapai.
Leeds United kemudian menawarkan jalur yang dibutuhkannya: kesempatan membangun ritme, memperlihatkan kemampuan, dan terus berkembang melalui pertandingan kompetitif. Berdasarkan penuturan Trafford, penampilan impresif bersama Leeds juga memperkuat keyakinannya bahwa target yang lebih besar bersama tim nasional Inggris masih mungkin diwujudkan.
Dua Trofi Mengubah Cara Trafford Menilai Musim Sulit
Meski mengalami masa-masa terpuruk, Trafford tidak memandang musim terakhirnya di Manchester City sebagai kegagalan sepenuhnya. Ia tetap memainkan peran penting dalam keberhasilan klub meraih Piala Liga dan Piala FA karena dipercaya menjadi starter pada kedua pertandingan final di Wembley.
Trafford mengakui bahwa musim tersebut tidak berjalan seperti harapannya. City juga tidak memenangi seluruh empat trofi yang mereka incar. Namun, setelah melihat kembali perjalanan itu, ia merasa telah belajar dan berkembang dalam jumlah besar, sekaligus menutup musim dengan dua medali juara.
Sudut pandangnya pun menjadi lebih seimbang. Ada saat ketika ia merasa sangat kecewa, menyesali berbagai hal, dan mempertanyakan keadaan yang dihadapinya. Di sisi lain, pengalaman bersaing dalam skuad Guardiola serta tampil dalam dua final memberi nilai yang tidak bisa diukur hanya melalui jumlah penampilan di liga. Trafford kini menyebut dirinya berterima kasih atas pengalaman tersebut dan menilainya sebagai satu tahun yang luar biasa.
Target Menjadi Kiper Nomor Satu Inggris
Trafford juga menjadi bagian dari skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026 di bawah Thomas Tuchel. Ia tidak mendapatkan menit bermain, tetapi menyebut keterlibatannya sebagai pengalaman luar biasa yang tidak akan dilupakan. Berbeda dengan kekecewaannya di level klub, Trafford mengatakan bahwa sejak dipanggil ia sudah memahami peran yang akan dijalankan dan tidak mengharapkan kesempatan tampil.
Selama bersama tim nasional, fokusnya adalah menyerap sebanyak mungkin pengalaman dan terus memperbaiki diri setiap hari. Baginya, akumulasi dari hari-hari yang dijalani dengan baik dapat menempatkan seorang pemain dalam posisi yang lebih kuat untuk meraih kesempatan berikutnya.
Pada masa mendatang, Trafford ingin melangkah lebih jauh dengan menjadi penjaga gawang utama Inggris. Itu merupakan cita-cita yang telah lama dimilikinya. Ia meyakini bahwa peningkatan berkelanjutan dan performa bagus bersama Leeds dapat membantunya mendekati posisi tersebut, meskipun persaingan di departemen penjaga gawang tim nasional tetap ketat.
Perjalanan Trafford memperlihatkan dua sisi yang dapat hadir secara bersamaan dalam satu musim: kesulitan pribadi akibat jarang bermain dan keberhasilan kolektif berupa dua trofi. Kepindahannya ke Leeds menjadi langkah untuk mengembalikan kesinambungan penampilan, menjaga kesejahteraan mental, serta membuka jalan menuju ambisi terbesarnya bersama Inggris.
Sumber
BBC Sport — James Trafford: England goalkeeper says not playing for Manchester City was ‘horrendous’
Shop Premium Football Kits
🔥 Shop premium football kits at fanaticfootykit.com
⚡ Grab yours now at footyfanaticshop.com















