Trent Alexander-Arnold kembali menjadi pusat perdebatan mengenai posisi terbaiknya setelah membantu Real Madrid meraih kemenangan 2-1 atas Inter Milan di Liga Champions, Selasa. Jose Mourinho menempatkan pemain Inggris tersebut di lini tengah, tetapi penampilan itu lebih tepat dibaca sebagai solusi atas keterbatasan skuad daripada awal perubahan peran secara permanen.
Laga melawan Inter merupakan penampilan starter kedua Alexander-Arnold pada musim ini. Ia belum berhasil mengamankan status sebagai bek kanan utama Real Madrid sejak pindah ke Santiago Bernabeu pada musim panas lalu. Kesempatan bermain di sektor sentral pun menawarkan jalan lain untuk memanfaatkan kemampuan mengumpan, mengirim umpan silang, dan membantu serangan yang selama ini menjadi kekuatannya.
Mourinho Memilih Alexander-Arnold karena Opsi Terbatas
Keputusan Mourinho tidak lahir dari rencana besar untuk mengubah Alexander-Arnold menjadi gelandang. Real Madrid sedang kehilangan beberapa pilihan di area tersebut karena Eduardo Camavinga, Arda Guler, dan Bernardo Silva menjalani skorsing. Situasi itu membuat pelatih asal Portugal tersebut memasangkan Alexander-Arnold dengan Federico Valverde.
Seusai pertandingan, Mourinho menegaskan bahwa pemain berusia 27 tahun itu bukan seorang gelandang, meskipun sebelumnya pernah menjalankan peran serupa bersama Inggris dan Liverpool. Namun, sang pelatih tetap menilai Alexander-Arnold memahami tuntutan taktik dengan sangat baik. Kerja pemain Inggris itu bersama Valverde juga mendapatkan apresiasi.
Penilaian tersebut memberikan batas yang jelas: Mourinho menghargai kontribusinya, tetapi belum memberi tanda bahwa posisi itu akan menjadi pekerjaan rutin. Menurut pemahaman BBC Sport, Mourinho terkesan dengan performa, nilai, dan fleksibilitas Alexander-Arnold. Ia dipandang berbeda dari bek sayap tradisional karena mampu bergerak ke area sentral dan ikut membangun serangan dari posisi lini tengah.
Statistik Menunjukkan Kualitas dan Risiko di Posisi Sentral
Kontribusi Alexander-Arnold melawan Inter memperlihatkan dua sisi eksperimen tersebut. Ia menciptakan dua peluang dan melepaskan lebih banyak umpan silang dibandingkan pemain Real Madrid lainnya. Angka itu menggambarkan bagaimana kualitas distribusi dan kreativitasnya tetap dapat muncul ketika bermain lebih ke tengah.
Di sisi lain, ia tidak memenangi satu tekel pun dan hanya membukukan akurasi umpan 83,3%. Mourinho juga mengakui bahwa Alexander-Arnold kehilangan bola beberapa kali karena tuntutan bermain sebagai gelandang berbeda dengan ketika beroperasi di bek kanan. Beban fisik posisi tersebut dinilai menyulitkan, meski sang pemain disebut telah memberikan seluruh tenaganya.
Alexander-Arnold digantikan tidak lama setelah Inter memperkecil kedudukan pada menit ke-77. Terdengar siulan dari tribune, tetapi reaksi itu belum tentu ditujukan kepadanya secara pribadi. Ada kemungkinan pendukung Madrid sedang meluapkan ketidakpuasan terhadap penampilan tim secara keseluruhan dalam kemenangan yang berlangsung ketat tersebut.
Persaingan Bek Kanan Real Madrid Belum Selesai
Pertandingan ini juga menjadi kali pertama Alexander-Arnold dan Denzel Dumfries turun bersama sebagai starter dalam laga kompetitif. Keduanya sebelumnya pernah dimainkan sejak awal dalam pertandingan pramusim menghadapi Fiorentina. Saat itu, Alexander-Arnold berada di bek kanan, sedangkan Dumfries menempati posisi yang lebih menyerang pada sisi yang sama.
Mourinho tampaknya belum memiliki pilihan mutlak untuk posisi bek kanan. Setelah harus bersaing dengan Dani Carvajal pada musim lalu, Alexander-Arnold kini menghadapi kompetisi dari Dumfries. Karena itu, fleksibilitas untuk masuk ke tengah dapat memperbesar peluang bermainnya, walaupun belum otomatis menjadikannya gelandang utama.
Kemampuan mengirim umpan panjang, umpan silang, bola terobosan, dan eksekusi bola mati tetap menjadi modal penting. Karakter tersebut memungkinkan Real Madrid menggunakan Alexander-Arnold sebagai bek yang masuk ke area sentral ketika menguasai bola, tanpa harus selalu memasangnya sebagai gelandang sejak awal.
Eksperimen Lama yang Kembali Diuji
Pertanyaan mengenai masa depan Alexander-Arnold di lini tengah telah muncul sejak jauh sebelum ia bergabung dengan Madrid. Di Liverpool, rancangan permainan Jurgen Klopp kerap memanfaatkan kemampuannya bergerak ke tengah untuk menyebarkan operan, meski posisi awalnya tetap bek kanan.
Bersama Inggris, Gareth Southgate pernah memberinya nomor punggung 10 dalam laga kualifikasi melawan Malta pada Juni 2023. Inggris menang 4-0 dan Alexander-Arnold mencetak gol dari lini tengah. Ketika berusia 24 tahun, ia mengatakan bahwa peran tersebut terasa nyaman dan alami baginya.
Southgate kemudian kembali mengujinya di sektor sentral, termasuk pada Euro 2024. Eksperimen itu dihentikan setelah dua pertandingan fase grup. Dalam hasil imbang 1-1 melawan Denmark, Alexander-Arnold ditarik keluar sebelum pertandingan berjalan satu jam dan kemudian kehilangan tempat di tim.
Kemenangan atas Inter belum membuktikan bahwa perdebatan posisi Alexander-Arnold telah selesai. Laga itu justru menunjukkan mengapa gagasan memainkan dirinya di tengah terus muncul: kemampuan kreatifnya menjanjikan, tetapi tuntutan defensif, penguasaan ruang, dan intensitas fisiknya masih memerlukan penyesuaian. Untuk sementara, nilai terbesarnya bagi Mourinho mungkin terletak pada fleksibilitas, bukan pada satu posisi baru yang permanen.
Sumber
BBC Sport: Trent Alexander-Arnold returns to midfield for Real Madrid
Shop Premium Football Kits
🔥 Shop premium football kits at fanaticfootykit.com
⚡ Grab yours now at footyfanaticshop.com
















