Image

Pajak Premier League Membesar, Transfer Domestik Dorong Kesenjangan Sepak Bola Eropa

Premier League tidak hanya memecahkan rekor belanja pada bursa transfer musim panas 2026. Kompetisi Inggris itu juga membentuk pasar internal dengan tingkat harga tersendiri: seorang pemain yang direkrut dari sesama klub Premier League rata-rata berharga hampir dua kali lipat dibandingkan pemain yang didatangkan dari luar negeri. Perubahan ini memperlihatkan betapa pengalaman bermain di Inggris telah menjadi komoditas mahal sekaligus memperlebar jarak finansial dengan liga-liga Eropa.

Selisih Harga Pemain Premier League Mencapai £19,2 Juta

Rata-rata biaya pembelian pemain dari klub Premier League pada musim panas ini mencapai £39,4 juta. Sebaliknya, pemain yang direkrut dari luar Inggris memiliki rata-rata harga £20,2 juta. Selisih £19,2 juta tersebut mendekati premi £20 juta untuk pemain yang sudah berada di kompetisi teratas Inggris.

Kieran Maguire, profesor keuangan sepak bola di University of Liverpool, menyebut fenomena itu sebagai “pajak Premier League”. Menurut penjelasannya, jaringan pencarian bakat klub-klub Inggris kini begitu luas sehingga pemain dari pasar internasional dapat direkrut lebih awal. Mereka kemudian berkembang dan membuktikan kemampuannya di Premier League sebelum dibeli oleh klub yang lebih besar.

Carlos Baleba menjadi contoh paling jelas dalam bahan sumber. Brighton merekrutnya dari Lille dengan harga £23 juta tiga tahun lalu, lalu menjualnya kepada Manchester United senilai £70 juta pada pekan terakhir bursa. Dalam model seperti ini, klub penjual memperoleh keuntungan besar, sedangkan pembeli membayar lebih untuk mengurangi risiko adaptasi pemain.

Pajak Premier League Membesar, Transfer Domestik Dorong Kesenjangan Sepak Bola Eropa
Sumber foto: BBC Sport

Transfer Mahal Antarklub Inggris Naik Tiga Kali Lipat

Jumlah transfer bernilai sedikitnya £40 juta meningkat tajam. Pada musim 2024-25 terdapat 13 kesepakatan dalam kategori tersebut, sementara musim panas ini jumlahnya mencapai 27. Perubahan terbesar terjadi di dalam negeri: transaksi mahal antarklub Inggris bertambah dari enam menjadi 18, atau tiga kali lipat dalam dua tahun.

Pada periode yang sama, jumlah kesepakatan minimal £40 juta antara klub Premier League dan klub Eropa hanya naik dari tujuh menjadi sembilan. Total belanja untuk seluruh transfer domestik juga bertambah lebih dari dua kali lipat. Data ini menunjukkan bahwa klub Inggris semakin nyaman menjual pemain kepada sesama peserta liga, termasuk kepada rival mereka.

Sejumlah nilai transfer menggambarkan skala pasar tersebut. Tottenham membayar Manchester City £75 juta untuk Savio dan menyerahkan £65 juta kepada Everton untuk Iliman Ndiaye. Spurs juga mengeluarkan £85 juta kepada West Ham untuk Mateus Fernandes. BBC mempertanyakan apakah klub Eropa akan bersedia menyamai harga-harga itu; hal tersebut merupakan analisis mengenai kondisi pasar, bukan fakta bahwa tidak pernah ada peminat dari luar Inggris.

Aturan Keuangan Membuat Laba Transfer Makin Penting

Harga pemain bukan satu-satunya pertimbangan. Dalam aturan squad cost ratio atau SCR yang baru, laba penjualan dapat membantu klub menciptakan ruang untuk berinvestasi kembali. Namun, perhitungannya tidak sesederhana mengurangi harga beli dari harga jual.

Nottingham Forest, misalnya, membeli Elliot Anderson dari Newcastle seharga £35 juta dan menjualnya kepada Manchester City dengan nilai £116 juta. Ketika transfer terjadi, sekitar £21 juta dari biaya awal masih tercatat dalam pembukuan. Karena itu, keuntungan yang diakui berdasarkan perhitungan tersebut adalah £95 juta, kemudian dirata-ratakan selama tiga tahun menjadi £31,67 juta per tahun bagi Forest.

Sistem ini berarti penjualan pemain tidak lagi menjadi solusi instan satu kali untuk menaikkan kemampuan belanja dalam satu jendela transfer atau menghindari pelanggaran aturan finansial. Klub tetap berkepentingan mendapatkan harga jual setinggi mungkin karena laba yang lebih besar memberikan rata-rata keuntungan SCR lebih tinggi.

Enam klub dengan kekuatan komersial terbesar—Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham—menghabiskan £1,658 miliar. Sebanyak 14 klub lainnya membelanjakan total £1,833 miliar, tetapi perdagangan pemain menjadi jauh lebih penting bagi kelompok tersebut. Aston Villa dan Newcastle, contohnya, menyelesaikan lima transaksi senilai minimal £40 juta setelah memperoleh pemasukan ratusan juta pound dari penjualan pemain.

Daya Belanja Inggris Memicu Kekhawatiran di Eropa

Arus dana yang semakin besar di antara klub Inggris otomatis mengurangi bagian uang transfer yang mengalir ke benua Eropa. Pada musim panas ini, klub-klub Eropa hanya membuat tujuh pembelian minimal £40 juta dari sesama klub di benua tersebut. Seluruh transaksi itu dilakukan Barcelona, Bayern Munich, dan Paris Saint-Germain.

Javier Gomez, direktur umum korporat La Liga, menyampaikan pendapat bahwa model Premier League yang merugi dapat mendorong inflasi biaya transfer dan gaji di seluruh sektor, termasuk Bundesliga, Liga Prancis, dan La Liga. Sementara itu, mantan ketua Bournemouth yang kini bekerja sebagai pengacara olahraga, Trevor Watkins, menilai Premier League hampir beroperasi di dalam gelembung sendiri karena pendapatannya jauh melampaui liga lain.

Presiden FC Porto Andre Villas-Boas mengungkapkan dampak praktisnya. Menurut dia, Porto kini bersaing mendapatkan pemain bukan dengan Manchester City atau Liverpool, melainkan dengan klub seperti Coventry dan Brentford. Pernyataan tersebut mencerminkan tekanan yang dirasakan klub tradisional Eropa ketika klub Inggris di berbagai level mampu menawarkan biaya dan gaji lebih tinggi.

Kekhawatiran bahwa kekuatan finansial itu akan berlanjut ke lapangan memiliki dasar pada hasil musim lalu: Aston Villa menjuarai Liga Europa, Crystal Palace memenangi Conference League, dan Arsenal mencapai final Liga Champions sebelum dikalahkan Paris Saint-Germain. Hasil tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan dominasi permanen, tetapi memperkuat perdebatan mengenai kesenjangan kompetitif. Selama pendapatan dan pasar internal Premier League terus menopang harga tinggi, “pajak” pemain Inggris tampaknya akan tetap menjadi persoalan bagi sepak bola Eropa.

Sumber

BBC Sport: The Premier League premium is £20m – and that worries European clubs

Shop Premium Football Kits

🔥 Shop premium football kits at fanaticfootykit.com

⚡ Grab yours now at footyfanaticshop.com

Releated Posts

Transfer Enzo Fernandez ke Manchester City: Investasi Rp? Rekor £125 Juta untuk Proyek Maresca

Manchester City menuntaskan transfer Enzo Fernandez dari Chelsea senilai £125 juta. Kehadiran gelandang Argentina itu memperkuat proyek Enzo…

Aston Villa Rekrut Ibrahim Mbaye dan Harwood-Bellis untuk Bangun Ulang Skuad Unai Emery

Aston Villa meresmikan kedatangan Ibrahim Mbaye dari PSG dan Taylor Harwood-Bellis dari Southampton setelah kehilangan sejumlah pemain penting…

Deadline Day Liga Inggris 2026: Alvarez, Enzo Fernandez, dan Gakpo Jadi Sorotan

Menjelang penutupan bursa transfer musim panas 2026, Arsenal, Manchester City, Liverpool, Chelsea, Tottenham, Everton, Newcastle, dan Manchester United…

Liverpool Sepakati Transfer Bradley Barcola hingga £123 Juta, Masa Depan Gakpo Jadi Sorotan

Liverpool menyepakati paket transfer Bradley Barcola dari PSG senilai hingga £123 juta. Kedatangannya berpotensi mengubah susunan lini depan…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *