Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA sedang berada dalam tekanan besar. Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh di sepak bola dunia, pria asal Swiss itu kini menghadapi kritik terbuka dari sejumlah federasi, termasuk UEFA.
Pemicunya bukan cuma satu masalah.

Hubungannya yang terlalu dekat dengan tokoh-tokoh politik dunia, sejumlah keputusan kontroversial selama Piala Dunia 2026, hingga rencana FIFA menjual sebagian kepentingan komersial Piala Dunia kepada investor swasta membuat kepercayaan terhadap kepemimpinannya mulai goyah.
Bahkan, muncul pertanyaan yang sebelumnya mungkin terdengar berlebihan: apakah Gianni Infantino masih menjadi sosok yang tepat untuk memimpin FIFA?
Rencana Bisnis Piala Dunia Jadi Pemicu Konflik Besar
Masalah terbaru bermula dari rencana FIFA membuka sebagian kepemilikan bisnis komersial Piala Dunia kepada investor.
Proposal tersebut mendapat penolakan keras dari UEFA dan sejumlah konfederasi lain. Reuters melaporkan bahwa proyek itu akhirnya ditarik setelah muncul gelombang kritik dan ancaman boikot terhadap kompetisi FIFA.
UEFA bahkan menegaskan bahwa pencabutan proposal tersebut belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan mereka kepada Infantino.
Situasinya semakin serius karena kritik tidak lagi datang dari media atau suporter saja. Sejumlah federasi nasional, pejabat sepak bola, hingga tokoh publik mulai mempertanyakan cara FIFA dijalankan di bawah kepemimpinannya.
Norwegia termasuk yang mengambil sikap paling keras dengan meminta Infantino mundur. Sementara itu, mantan bintang Portugal Luis Figo juga menyerukan perubahan kepemimpinan di FIFA.
Namun, situasinya tidak sesederhana Eropa melawan Infantino.
Argentina, Meksiko, CAF dan sejumlah federasi lain masih memberikan dukungan kepada presiden FIFA tersebut. Itu berarti Infantino belum kehilangan basis kekuatan politiknya di sepak bola internasional.
Dari Anak Imigran sampai Menjadi Orang Nomor Satu di FIFA
Perjalanan Infantino menuju kursi tertinggi FIFA sebenarnya cukup panjang.
Ia lahir di Brig, Swiss, pada 23 Maret 1970 dari keluarga imigran Italia. Ayah dan ibunya pindah ke Swiss untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Infantino tumbuh sebagai penggemar sepak bola, tetapi kariernya sebagai pemain tidak berkembang jauh. Ia kemudian memilih jalur hukum dan administrasi olahraga.
Keputusan itu ternyata menjadi pintu masuk menuju panggung sepak bola dunia.
Setelah belajar hukum, Infantino bergabung dengan UEFA pada 2000. Kariernya berkembang cepat hingga akhirnya menjadi Sekretaris Jenderal UEFA pada 2009.
Bagi banyak penggemar sepak bola era 2010-an, wajah Infantino mulai familiar karena ia sering muncul memimpin proses undian Liga Champions.
Semua berubah pada 2016.
Saat FIFA sedang terguncang skandal besar yang menjatuhkan Sepp Blatter, Infantino ikut mencalonkan diri sebagai presiden. Ia kemudian memenangi pemilihan dan resmi menjadi pemimpin FIFA.
Sejak saat itu, pengaruhnya terus membesar.
FIFA di Era Infantino Juga Tumbuh Secara Bisnis
Sulit membahas Infantino hanya dari sisi kontroversi.
Di bawah kepemimpinannya, FIFA memperluas Piala Dunia menjadi 48 peserta dan meningkatkan skala komersial turnamen secara besar-besaran.
Piala Dunia 2026 menjadi salah satu proyek terbesar dalam sejarah FIFA.
Bersamaan dengan pertumbuhan bisnis tersebut, pendapatan Infantino juga meningkat.
Laporan transparansi FIFA untuk 2025 menunjukkan Infantino menerima remunerasi bruto sekitar US$4,8 juta, yang terdiri dari gaji dasar US$2,6 juta dan bonus sekitar US$2,2 juta. Masa jabatannya saat ini berlangsung sampai 2027.
Nominal itu ikut memperkuat persepsi bahwa posisi Presiden FIFA kini semakin menyerupai pimpinan sebuah korporasi global dengan kekuatan ekonomi dan politik yang sangat besar.
Kedekatan Infantino dengan Donald Trump Jadi Sorotan
Salah satu hal yang paling sering dipersoalkan selama beberapa tahun terakhir adalah hubungan Infantino dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Hubungan keduanya terlihat sangat dekat menjelang dan selama Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko.
Pada Desember 2025, Infantino memberikan penghargaan perdana FIFA Peace Prize kepada Trump.
Kontroversinya semakin besar ketika terjadi kasus Folarin Balogun di Piala Dunia 2026.
Penyerang Amerika Serikat tersebut mendapat kartu merah dan seharusnya menjalani skorsing. Namun, seorang pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa Trump menghubungi Infantino terkait hukuman tersebut sebelum FIFA kemudian menangguhkan larangan bermain Balogun.
Keputusan itu mendapat kritik karena dianggap berpotensi mencampurkan kepentingan politik dengan proses disipliner sepak bola.
Kasus tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pertanyaan mengenai independensi FIFA semakin sering muncul.
Hubungan dengan Pemimpin Dunia Bukan Hal Baru
Infantino memang dikenal aktif membangun hubungan dengan kepala negara.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia terlihat bersama berbagai pemimpin dunia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Pendekatan tersebut sebenarnya bisa dipahami dari posisi FIFA.
Piala Dunia membutuhkan dukungan pemerintah, mulai dari pembangunan stadion, keamanan, visa, transportasi sampai infrastruktur. Presiden FIFA otomatis harus berhubungan dengan pemimpin negara.
Masalah muncul ketika hubungan tersebut dianggap terlalu dekat.
Kritikus menilai FIFA harus menjaga jarak yang cukup agar kepentingan organisasi tidak bercampur dengan agenda politik tertentu.
Di sinilah gaya kepemimpinan Infantino terus menimbulkan perdebatan.
Piala Dunia Qatar 2022 Pernah Membuatnya Dihujani Kritik
Kontroversi besar sebenarnya sudah terjadi sebelum Piala Dunia 2026.
Menjelang Piala Dunia Qatar 2022, Infantino membuat pidato panjang sebagai respons terhadap kritik mengenai hak asasi manusia dan perlakuan terhadap pekerja migran di Qatar.
Dalam pidatonya, ia berusaha menghubungkan pengalaman diskriminasi yang dialaminya semasa kecil dengan kritik terhadap Qatar.
Pernyataan itu justru memicu reaksi negatif.
Sejumlah kelompok HAM menilai cara Infantino menyampaikan argumennya tidak tepat karena pengalaman pribadinya dianggap tidak bisa disamakan begitu saja dengan situasi pekerja migran dan kelompok yang menghadapi persoalan HAM.
Kontroversi tersebut memperkuat citra Infantino sebagai pemimpin yang tidak ragu membela keputusan FIFA meskipun menghadapi kritik publik yang besar.
Kini UEFA Benar-benar Mulai Melawan
Yang membuat krisis pada 2026 berbeda adalah siapa yang melakukan perlawanan.
UEFA bukan organisasi kecil.
Konfederasi tersebut menaungi negara-negara dengan liga terbesar dan paling komersial di dunia, termasuk Inggris, Spanyol, Jerman, Italia dan Prancis.
UEFA menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Bahkan setelah FIFA menarik proposal penjualan kepentingan komersial Piala Dunia, sikap Eropa belum berubah.
Namun, Infantino juga belum jatuh.
Dukungan dari sebagian Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah dan beberapa federasi Asia menunjukkan peta politik FIFA tetap terbelah.
Dan dalam FIFA, dukungan federasi sangat penting karena setiap asosiasi anggota memiliki suara dalam pemilihan presiden.
Apakah Infantino Bisa Digulingkan?
Secara politik, jawabannya: bisa.
Tetapi tidak mudah.
Infantino masih menjabat sampai 2027 dan sejauh ini belum muncul satu kandidat yang jelas memiliki kekuatan global untuk mengalahkannya.
Itulah mengapa tuntutan mundur dari Eropa belum otomatis berarti kepemimpinannya selesai.
FIFA terdiri dari 211 asosiasi anggota. Banyak federasi dari negara kecil justru memiliki hubungan kuat dengan program pendanaan dan pengembangan FIFA.
Infantino selama ini cukup efektif membangun dukungan dari kelompok tersebut.
Reuters mencatat bahwa meskipun tekanan terhadapnya meningkat, belum ada penantang yang secara resmi muncul sebagai kandidat kuat untuk pemilihan berikutnya.
Jadi, pertarungannya kemungkinan akan berlangsung panjang.
FIFA Sekarang Berada di Persimpangan
Masalah Infantino pada akhirnya lebih besar dari sekadar satu proposal bisnis.
Pertanyaannya adalah bagaimana organisasi sepak bola terbesar dunia seharusnya dijalankan.
Apakah FIFA harus semakin agresif mengejar pendapatan?
Seberapa dekat presidennya boleh berhubungan dengan pemimpin politik?
Dan siapa yang sebenarnya memiliki kekuatan untuk mengawasi seorang Presiden FIFA ketika pengaruh organisasinya sudah begitu luas?
Selama Infantino masih mendapatkan dukungan dari cukup banyak federasi, posisinya belum tentu langsung runtuh.
Tapi satu hal sudah berubah.
Jika sebelumnya ia terlihat hampir tidak tersentuh, kini untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir oposisi terhadap kepemimpinannya datang secara terbuka dari kelompok yang punya kekuatan nyata di sepak bola internasional.
Pemilihan FIFA berikutnya akan menentukan apakah Infantino mampu bertahan dari krisis terbesar dalam masa kepemimpinannya, atau justru era kekuasaannya mulai mendekati akhir.
Mau terus update soal Piala Dunia, transfer pemain, kontroversi FIFA, dan cerita menarik dari sepak bola internasional? Subscribe FootyFanatics supaya kamu gak ketinggalan berita terbaru dari dunia bola.
🔥 Shop premium football kits at https://fanaticfootykit.com
⚡ Grab yours now at https://footyfanaticshop.com















