Sepak bola Eropa kembali menyambut sejumlah nama besar ke kasta utama dalam beberapa tahun terakhir, dari Parma dan Hamburg hingga Leeds United dan Nottingham Forest. Namun, masih ada sederet klub bersejarah yang berjuang jauh dari panggung tertinggi. Sampdoria, Bordeaux, dan Real Zaragoza termasuk dalam kelompok “raksasa tidur” dengan warisan kuat, basis pendukung besar, serta potensi yang belum sepenuhnya hilang.
Status tersebut bukan semata-mata ditentukan oleh jumlah trofi. Sejarah, identitas, dukungan publik, kapasitas stadion, dan jarak waktu sejak kesuksesan terakhir sama-sama menjadi pertimbangan. Berdasarkan ukuran itu, sepuluh klub berikut memperlihatkan bahwa nama besar tidak selalu sejalan dengan posisi mereka saat ini.
Sampdoria dan Bordeaux Terpuruk karena Masalah Finansial
Sampdoria memiliki salah satu riwayat paling kuat dalam daftar ini. Klub asal Genoa tersebut menjuarai Serie A pada 1990-91, mengoleksi empat Coppa Italia, dan memenangi Piala Winners 1990. Generasi Gianluca Vialli, Roberto Mancini, dan Gianluca Pagliuca bahkan mencapai final European Cup 1992 sebelum dikalahkan Barcelona melalui perpanjangan waktu.
Kenyataan sekarang sangat berbeda. Sampdoria berada di Serie B setelah menjadi juru kunci Serie A pada 2023 di tengah persoalan finansial serius. Mereka juga nyaris turun ke kasta ketiga. Kepemilikan baru menghadirkan harapan akan stabilitas, sedangkan Stadio Luigi Ferraris yang berkapasitas 33.205 penonton direncanakan menjalani pembangunan kembali menjelang Euro 2032.
Kemerosotan Bordeaux lebih ekstrem. Juara Prancis enam kali itu terdegradasi dari Ligue 1 pada 2022, kemudian jatuh ke kasta keempat setelah memasuki proses administrasi. Masalah keuangan kembali membawa mereka turun ke divisi regional tingkat keenam pada musim panas. Akuisisi oleh perusahaan investasi Amerika Serikat, Park Bench, senilai satu euro menjadi titik awal baru bagi klub yang pernah menaungi Zinedine Zidane serta melahirkan Aurelien Tchouameni dan Jules Kounde.
Real Zaragoza dan Saint-Etienne Menjaga Warisan Eropa
Real Zaragoza kini berkompetisi di Primera Federacion, kasta ketiga Spanyol, tetapi sejarah mereka berbicara jauh lebih lantang. Klub tersebut memiliki enam piala domestik dan meraih Piala Winners 1995 berkat gol jarak jauh Nayim ke gawang Arsenal pada menit terakhir perpanjangan waktu. Pablo Aimar, Diego Milito, dan David Villa juga pernah mengenakan seragam Zaragoza.
Ander Herrera, yang berusia 37 tahun, kembali ke klub masa kecilnya ketika pembangunan kembali La Romareda sedang berjalan. Stadion itu diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 43.000 penonton untuk Piala Dunia 2030. Herrera berpendapat Zaragoza semestinya bersaing di Eropa dan memperebutkan trofi, tetapi ambisi tersebut masih harus dimulai dengan keluar dari divisi ketiga.
Saint-Etienne juga membawa memori kejayaan kontinental. Les Verts mengoleksi 10 gelar liga Prancis dan pernah menjadi finalis European Cup 1976. Kini mereka menjalani musim keempat dalam lima tahun terakhir di Ligue 2 setelah kalah dari Nice dalam play-off promosi/degradasi. Meski demikian, akademi yang menghasilkan William Saliba dan Wesley Fofana, ditambah Stade Geoffroy-Guichard berkapasitas 41.965 penonton, tetap memberi fondasi penting.
Empat Klub Jerman Bertumpu pada Dukungan Besar
Dynamo Dresden, Kaiserslautern, Hertha Berlin, dan FC Nuremberg memperlihatkan kedalaman tradisi sepak bola Jerman. Dynamo, pemilik delapan gelar liga Jerman Timur, terakhir bermain di Bundesliga pada 1995. Kini mereka berada di 2. Bundesliga dengan dukungan yang sangat kuat: rata-rata penonton kandang pada musim lalu menembus 30.000.
Kaiserslautern merupakan satu-satunya klub yang langsung menjuarai Bundesliga setelah promosi, ketika melakukannya pada 1997-98. Hampir 15 tahun telah berlalu sejak penampilan terakhir mereka di divisi utama, tetapi rata-rata penonton masih melampaui 46.000. Mereka juga mencapai final Piala Jerman 2024 sebelum kalah dari Bayer Leverkusen asuhan Xabi Alonso.
Hertha menjalani musim keempat berturut-turut di luar Bundesliga, walaupun rutin menarik lebih dari 50.000 orang ke Olympiastadion. Posisi mereka di puncak 2. Bundesliga dalam bahan sumber memperkuat peluang kembali. Sementara itu, Nuremberg memiliki sembilan gelar liga, stadion berkapasitas 50.000, dan dipimpin Miroslav Klose. Kombinasi sejarah serta basis pendukung membuat keduanya tetap relevan dalam pembicaraan kebangkitan.
Bursaspor dan Sheffield Wednesday Menanti Momentum
Bursaspor pernah mematahkan dominasi klub-klub Istanbul dengan menjuarai Turki pada 2009-10. Setelah terperosok ke kasta keempat pada 2024, mereka menanjak kembali dan kini bermain di 1. Lig. Kota berpenduduk sekitar 2,5 juta jiwa dan stadion berbentuk buaya dengan kapasitas 43.361 menyediakan potensi besar untuk kembali ke Super Lig, tempat terakhir kali mereka bermain pada 2019.
Sheffield Wednesday menghadapi tantangan serupa di League One. Pemilik empat gelar liga dan juara Piala Liga 1991 itu turun ke kasta ketiga setelah memasuki administrasi serta mengalami degradasi musim lalu. Konsorsium Amerika Serikat membeli klub pada Mei, memunculkan optimisme baru di kalangan pendukung. Hillsborough, yang dapat menampung 39.732 orang, menjadi pengingat bahwa infrastruktur klub masih berukuran kasta tertinggi.
Kesepuluh klub tersebut mempunyai bentuk masalah yang berbeda, mulai dari utang dan pergantian pemilik sampai kegagalan olahraga berkepanjangan. Trofi lama tidak menjamin jalan pulang, tetapi stadion besar, komunitas suporter, dan identitas yang bertahan memberikan modal yang tidak dimiliki banyak pesaing mereka.
Sumber
BBC Sport: Sampdoria, Bordeaux, Real Zaragoza: Ranking European football’s biggest sleeping giants
Shop Premium Football Kits
🔥 Shop premium football kits at fanaticfootykit.com
⚡ Grab yours now at footyfanaticshop.com
















